GOA SIMALING
Dinamakan Goa si Maling karena dahulu goa itu
menjadi tempat pelarian dan persembunyian maling (pencuri) demikian menurut
Eyang Abdullah Zatari, tokoh masyarakat setempat yang juga veteran kemerdekaan
dari laskar Hisbullah. Setiap kali pencuri lari ke goa itu pasti tidak bisa
ditemukan, entah goa itu tembusnya kemana tidak ada yang tahu.
"Goa Si Maling menyimpan sejarah
keberadaan Barisan Hitam pada waktu Agresi Militer Belanda sekitar tahun 1947,
Barisan Hitam membuat markas dirumah Nuryantani, penduduk desa yang tinggal
didekat Goa Si Maling". Tutur
Eyang Zatari. Barisan Hitam dibentuk oleh
sekelompok pejuang untuk mempertahankan kemerdekaan pada masa Agresi Militer
Belanda, tepatnya dipesisir Laut Selatan Kebumen. Mereka bermarkas di sekitar
Goa si Maling yang letaknya di Desa Redisari, Kecamatan Rowokele, Kabupaten
Kebumen.

Sekitar tahun 1934 orang Belanda mulai masuk ke
daerah itu yang tujuannya untuk mencari fosfat sebagai bahan dasar pupuk,
mereka membuka proyek penambangan fosfat dengan menggali goa yang telah
tertutup tanah. Eyang Abdullah Zatari juga menceritakan para leluhurnya, konon
orang yang pertama kali datang di daerah itu bernama Nuryangiman, pendatang
dari daerah Brangkal sebelah utara Gombong, sekitar tahun 1845. Nuryangiman
adalah pengikut Pangeran Diponegoro waktu berjuang melawan penjajah Belanda.
Sumber:
suparjo